Karya Mandiri

Provider PPOB Bukopin

PPOB Menumbuhkan Wirausahawan Baru

Kebijakan PPOB (Payment Point On line Bank) bagi pembayaran listrik ternyata telah mendorong lahirnya wirausahawan baru di tengah masayarakat.

Mari kita cermati seksama di sekitar kita. Dipastikan ada tempat pembayaran listrik atau payment point (PP) baru selain PP yang lama semacam KUD. PP tumbuh begitu pesat, tidak hanya bertambah satu atau dua buah saja. Maklum, selain menerima pembayaran rekening listrik, PP juga dapat menerima pembayaran tagihan lainnya, seperti tagihan telpon, kredit sepeda motor dan lainnya.

Ya, melalui kebijakan PPOB, PLN memberi kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menangkap peluang usaha mendirikan PP. Monopoli pembayaran listrik yang dulu harus melalui kantor KUD, kantor PLN, atau tempat lainnya kini sudah ditinggalkan.

Peluang usaha yang terbuka tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh lembaga usaha, tapi juga perseorangan. Bahkan wirausahawan pemula, asal memenuhi ketentuan yang berlaku, dapat memanfaatkan peluang ini.

Cukup 500 ribu
Untuk bisa menjadi agen PPOB caranya adalah dengan menjadi downline 7 lembaga keuangan yang menjadi koordinator agen PPOB. Lembaga keuangan tersebut adalah BNI, BRI, Bank NISP, Bukopin, Bank Danamon, BPR KS, Bank Mandiri dan PT Pos Indonesia.

Sistem kerjasama yang ditawarkan tiap lembaga keuangan bisa berbeda-beda. Namun mereka rata-rata menawarkan modal investasi yang relatif kecil. Bahkan ada yang cukup dengan membayar deposit Rp 500.000. Info tentang peluang usaha ini bisa menghubungi salah satu lembaga keuangan tadi.

Berdasarkan pengamatan, PP yang tumbuh adalah pemain baru di bidang kewirausahaan. Tak sedikit dari mereka berasal dari kaum muda yang ingin terus berkembang maju. Meski sebagian ada juga lembaga atau perseorangan yang telah merintis usaha lainnya sejak lama.

Tentu ini menjadi kabar gembira bagi kita. Tumbuhnya wirausahawan-wirausahawan baru ini akan semakin mendorong bangsa kita selangkah lebih maju. Di sebuah Negara yang sudah maju, wirausahawan telah menjadi tulang punggung dan penggeraka utama perekonomian. Jauh berbeda dengan sebuah Negara berkembang yang hanya mempunyai sebagian kecil wirausahawan dan masyarakatnya cenderung memilih menjadi pekerja atau pegawai.

Kita tentu sangat berharap keberadaan mereka akan dapat berkembang dan tumbuh menjadi wirausahawan handal di masa mendatang. Agar cita-cita bangsa kita dapat diwujudkan.

Sumber: plnjateng.co.id